Daun kelor punya banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk di antaranya untuk pria. Apa saja manfaat daun kelor untuk pria?
Daun kelor atau Moringa oleifera merupakan tanaman asal India. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan herbal untuk mengobati banyak kondisi.
Manfaat daun kelor untuk pria
Daun kelor bahkan diketahui memiliki manfaat khusus untuk pria. Berikut di antaranya, melansir Healthline.
1. Menjaga kesehatan prostat
Biji dan daun kelor kaya akan senyawa yang mengandung sulfur bernama glukosinolat. Senyawa ini memiliki sifat antikanker.
Studi tabung reaksi menunjukkan bahwa glukosinolat dapat menghambat pertumbuhan sel kanker prostat pada manusia.
Kelor juga ditemukan membantu mencegah hiperplasia prostat jinak (BPH). Kondisi ini biasanya menjadi sering ditemukan seiring pertambahan usia dan ditandai dengan pembesaran prostat. Kondisi ini bisa membuat seseorang kesulitan dalam buang air kecil.
2. Mengatasi disfungsi ereksi
Manfaat kelor untuk pria selanjutnya adalah untuk mengatasi disfungsi ereksi.
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seorang pria untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi untuk berhubungan intim.
Kondisi ini sering terjadi karena adanya masalah pada aliran darah. Tekanan darah tinggi bisa jadi salah satu penyebabnya.
Daun kelor mengandung polifenol yang dapat memperlancar aliran darah dengan meningkatkan produksi oksida nitrat dan menurunkan tekanan darah.
Selain itu, penelitian lain pada tikus juga menemukan kelor dapat merelaksasi otot polos pada penis. Akibatnya, aliran darah ke area penis menjadi lebih lancar.
3. Meningkatkan kesuburan.
Seorang pria dianggap tidak subur saat produksi spermanya berkurang. Sperma di dalam tubuhnya juga tak bisa bergerak dengan lincah.
Daun dan biji kelor merupakan sumber antioksidan yang dapat membantu melawan kerusakan oksidatif pemicu gangguan produksi sperma.
Penelitian pada kelinci menemukan, bubuk daun kelor secara signifikan meningkatkan volume dan motilitas sperma.
Demikian beberapa manfaat daun kelor untuk pria. Namun, perlu dipahami bahwa sebagian besar penelitian di atas dilakukan pada hewan. Diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia untuk membuktikan efektivitasnya.